Wednesday, April 29, 2009

diangkat untuk diinjak

Jika aku adalah tiang negara
Mengapa hakku separuh hakmu?

Jika surga di telapak kakiku
mengapa aku tak utuh tanpa (muhrim)-mu?

Jika kau pemimpin dunia
Mengapa aku yang menjadi simbol moralmu?


dina savaluna

Tarzan Kota

Hampir semua orang sepakat image yang muncul saat nama Tarzan disebut adalah laki-laki tribal yang tinggal di hutan dan tidak tersentuh peradaban modern. Edgar Rice Burrough,penulis novel Tarzan of the Apes (1912) dimana pertama kali karakter Tarzan muncul memang sukses dalam mendobrak karakter penokohan dan karya sastra pada jamannya. Bahkan Disney tak mau kalah mempopulerkan cerita manusia hutan ini, lengkap dengan sentuhan fairy tale-nya.

Di Indonesia sendiri, film Tarzan Kota yang dibintangi oleh Alm. Binyamin Sueb pernah mereguk kejayannya dengan gemilang. Bahkan akhir 2008 kemarin, diluncurkan sebuah Film berjudul “TARZAN ke Kota”. Walaupun Sutradara Film ini menyangkal bahwa film ini ada kaitannya dengan film Alm.Binyamin Sueb, jika menonton kedua film ini, anda akan sepakat bahwa Film baru ini merupakan daur ulang dari Film lawas Alm Binyamin. Singkat Kata, Tokoh Tarzan ini selalu eksis dari masa ke masa dengan berbagai penyesuaian dengan jamannya.

Bila membuka kembali cerita-cerita tarzan, hampir semua cerita tarzan terdapa scene dimana tarzan frustasi dengan kemajuan peradaban yang dihadapinya. Saat harus berhadapan dengan helicopter, saat menemukan hand phone, bahkan terperangah saat menemukan Jane, karena tidak pernah melihat manusia lain sebelumnya. Siapa yang menyangkal sekelumit perasaan iba saat melihat scene tersebut. Iba karena ada saudara kita, manusia, yang tertatih-tatih mengikuti peradaban manusia yang terus berkembang. 

Yah, memang. Peradaban manusia selalu berkembang. Bahkan teori-teori human race sendiri mengakui bahwa bentuk fisik manusia selalu berevolusi (tapi bukan dari monyet ya). Buktinya dari fosil yang ditemukan, tengkorak manusia purba berbeda dengan tengkorak manusia modern. Peradaban manusia sendiri telah dimulai sejak ribuan tahun lalu, di Pulau Kreta (crete island), di Babylon, di daratan Amerika (suku Inca dan Maia), Mesir, dan berbagai situs lainnya tempat peradaban manusia kuno ditemukan.

Salah satu hasil kebudayaan itu adalah kepercayaan dan agama. Adalah hasil peradaban dimana manusia percaya bahwa terdapat kekuasaan yang lebih besar yang mengendalikan tempatnya hidup, mengendalikan jagad raya dengan batas-batas ruang dan waktu sesuai kemampuan manusia saat itu. Pengetahuan manusia berevolusi, buah dari peradaban. Dari percaya bumi itu pipih dan diluar bumi jurang, lalu menyangkalnya dan berkata bumi itu bulat dan bagian dari jagad raya, menamakan planet-planet dan jagad raya, kemudian menyangkal planet yang dulu ditemukannya sendiri sebagai satelit (Pluto). Singkat kata, Peradaban manusia selalu berkembang, tidak pernah berhenti, seiring dengan makin majunya pengetahuan. Itu salah satu alasannya mengapa perumus-perumus teori dan doktrin HAM khususnya perumus Kovenan Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya dulu percaya bahwa hak atas pendidikan teramat penting, karena menyangkut martabat manusia secara luas dan berkepanjangan. Bahkan Katarina Tomasevski menyebut hak atas pendidikan penting tidak hanya sebagai HAM itu sendiri, tp juga sebagai alat untuk memperoleh HAM lainnya. Sekali manusia tidak bebas untuk terus mendapatkan pengetahuan, untuk terus belajar, berfikir, dan berubah (sangkalan, pertanyaan, kekecewaan terhadap kebudayaan sebelumnya), maka kehidupan manusia (itu) ke depannya mendapatkan ancaman kemunduran atau setidaknya stagnan. Mengutip slogan salah satu NGO Internasional asal Belanda, Manusia tidak ada batasnya bila dia bebas, bila diberikan akses. Saya percaya itu karena nature dari manusia untuk selalu berkembang dan berubah untuk menjadi dirinya, karena itu dalam leksikon inggris ditambahkan kata “being” setelah kata “human” untuk seorang MANUSIA.

Dulu, semua manusia struggle untuk dirinya sendiri, membuat dan membawa senjata sendiri untuk melindungi diri sendiri. Lalu manusia mulai hidup berkomunal, dengan prinsip sapu lidi-nya. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, bla bla bla… Semakin maju peradaban, mulai membagi peran-peran dalam suatu komunitas. Peran keamanan kemudian dipegang oleh unit semacam polisi. Sehingga ”Si Pitung” tidak perlu membawa golok kemana-mana, karena fungsi Menjaga Keamanan dipegang oleh Polisi. Karena itu saat sistem keamanan yang dijalankan oleh Polisi dan Aparat Penegak Hukum berjalan dengan baik, namun orang masih ’main hakim sendiri’ apalagi menggunakan senjata, kita bisa bilang bahwa mereka tribal, tidak memahami peradaban, bahasa kasarnya Tidak Beradab. 

Dulu, perbudakan dilegalkan. Bahkan saat Presiden Amerika ke-16 Abraham Lincoln bermaksud menghapuskan perbudakan, Ratu Spanyol yang saat itu baru berusia 12 tahun, serta merta menentangnya. Dulu, manusia tidak terbayang hidup tanpa budak. ”Lalu siapa yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan budak”. Bahkan menurut sejarah, para budak yang baru dibebaskan pun bukan hanya tidak tahu harus pergi kemana dan bekerja apa, bahkan tidak tahu bagaimana caranya harus hidup bebas.

Perbudakan sendiri telah berlangsung dari ribuan tahun yang lalu. Kebudayaan Islam sendiri masih mengakui Perbudakan. Saat ini, perbudakan sendiri dianggap sebagai ”masa kelam” umat manusia. Orang-orang beradab saat ini bukan hanya bersumpah untuk tidak melakukan perbudakan, namun berusaha mencari cara untuk ”menebus dosa masa kelam” dengan sejumlah tindakan afirmatif kepada ras-ras yang dulu dijadikan budak Tidak ada lagi orang yang bangga memiliki budak banyak, karena dianggap tidak beradab (uncivilized), yah walaupun saat ini banyak perbudakan gaya baru, kita bahas lain waktu soal ini.

Dulu, hukuman mati serta hukuman badan (corporal punishment) menjadi hal yang standar. Nyawa untuk Nyawa, mata untuk mata. Hukuman pancung menjadi trend mulai dari eropa, timur tengah, hingga daratan timur jauh (jepang, cina, mongol). Sampai kemudian peradaban manusia modern menyangkalnya sendiri. Peradaban manusia yang kemudian menemukan bahwa hukuman mati dan hukuman badan tidak civilized, bahkan sudah banyak studi yg membuktikan hukuman badan tidak efektif mencegah dan mengurangi tingkat kejahatan. Orang melakukan kejahatan sibuk berfikir untuk tidak tertangkap, bukan bagaimana jika tertangkap.

Peradaban Islam yang berkembang di abad 6 masehi masih mengakui hukuman mati untuk kejahatan-kejahatan yang dianggap melanggar Hak Allah, seperti membunuh (karena hanya allah yang berhak mencabut nyawa), Murtad(keluar dari agaman islam yang dianggap menghianati Allah), Berzina dengan orang yang sudah menikah. Akan tetapi, sebenarnya Islam sendiri satu step lebih maju (terlepas bagaimana pelaksanaannya) dengan memberikan syarat-syarat yang banyak dan tidak mudah dalam pembuktian dan penjatuhan hukuman mati, misalnya dengan empat orang yang bersaksi melihat persenggamaan untuk kejahatan Zina. Jika dibandingkan dengan di Eropa, yang raja bisa memutus siapa bersalah dan mendapatkan hukuman mati dengan satu orang saksi saja. Setelah ribuan orang, terutama bangsawan Inggris, Prancis, Spanyol dihukum pancung karena dianggap menghianati raja, Kebudayaan Eropa mulai menyangkal ketidakadilan persidangan dan penjatuhan hukuman, meragukan keadilan yang dimuat di Kitab Hukum Pidana buatan Hamurabi. Manusia modern tidak menyalahkan hamurabi karena membuat hukum yang sadis, yang saat ini dianggap tidak beradab, bagaimanapun hamurabi menyumbangkan sesuatu yang berarti untuk peradaban manusia, yaitu HUKUM PIDANA. Dulu, Kitab Hamurabi itu karya emas peradaban, namun sekarang ditinggalkan karena tidak sesuai lagi dengan peradaban manusia. Ada satu yang tidak boleh ditinggalkan, semangat hamurabi untuk menyumbangkan sesuatu pada peradaban manusia. So, Hamurabi tribal? Bukan, orang yang saat ini masih menggunakan hukumnya yang tribal.

Dulu, sebelum Islam lahir, perempuan merupakan kelas kedua dan terbawah di tataran sosial manusia. Tidak mendapatkan warisan, tapi diwariskan. Perempuan tidak diakui suaranya, tidak bisa bersaksi di pengadilan. Perempuan tidak berharga dan hanya merupakan alat produksi manusia, bahkan pelampiasan nafsu manusiawi. Saya menganggap Muhammad SAW adalah male feminist yang pertama. Perempuan mendapatkan warisan, meski separuh laki-laki. Perempuan diakui kesaksiannya meski kekuatannya separuh laki-laki. Perempuan hanya boleh dipukul di pantatnya. Serta kewajiban suami untuk menggauli istrinya dengan baik.termasuk membatasi poligami hanya empat istri (sebelumnya bisa seratus lho). Memang patriarki islam ini, sekarang dihujat oleh kelompok-kelompok perempuan. Namun, tanpa gerakan yang dipimpin oleh Muhammad SAW dulu, mungkin abad 21 ini kedudukan perempuan belum di level ini. Muhammad SAW membawa angin segar bagi kesetaraan gender di jamannya. Seperti Hamurabi, Muhammad berani melawan mainstream saat itu. Muhammad berani menabrak dinding zona nyaman laki-laki, yang selama ribuan tahun diuntungkan dengan sistem yang patriarkis. Muhammad bukan orang tribal, justru sosok pembaharu. Pembaharu yang semangatnya hanya tertinggal dijamannya, bahkan terkubur bersama jasadnya. Saat ini orang justru lebih sibuk mengikuti apa yang dulu ia lakukan ketimbang mendalami semangat pembaharuannya. Orang-orang itu yang disebut Tribal. Hidup di abad 21 dan masih berfantasi hidup di abad 6 Masehi.

Saat ini banyak orang tribal. Berfantasi seperti hidup di abad 6, atau bahkan lebih mundur ke belakang. Memukuli istri atas nama agama, menegasikan suara perempuan dalam pengambilan keputusan dengan berdalih laki-laki diciptakan sebagai pemimpin, main hakim sendiri, bahkan menegakan hukum agama sendiri dengan mengabaikan hukum nasional. Padahal, sejak kecil bahkan di jaman orde baru pun digaung-gaungkan bahwa Indonesia negara hukum. Dan lebih tribal mereka yang terobsesi menjadikan Indonesia negara Islam. 

Di Aceh, beberapa tahun yang lalu, seorang teman disiksa dan diperlakukan lebih rendah dari binatang oleh Polisi karena dia Gay. Namanya Hartoyo. Kisah tentangnya sudah beredar dimana-mana, bahkan ia sudah menulis buku tentang pengalamannya tersebut. Saya pun pernah terlibat dalam pembuatan film yang memuat testimoninya. Gay dan Lesbian lebih sulit diterima di masyarakat dibandingkan dengan Transeksual/ Transgender. Mereka identik dengan entertainment. Mereka diterima karena mereka entertaining. Sebagai lucu-lucuan. Tapi bila anak/orang tua mereka diketahui transgender, mereka dengan mudahnya mengeluarkan sumpah serapah, ingin si transgender diubah jadi kodok, daripada jadi banci. Jadi, apa benar transeksual/transgender diterima di masyarakat? Dari beberapa vox populis yang didapat dari wawancara personal sebagian besar memiliki jawaban: ”Gue sih ga masalah sama transgender, asal jangan anak/keluarga gue”. 

Gay/Lesbian/Biseksual lebih parah. Homophobic bukan hanya berdalih agama. Orang bisa menjauhi temannya yang GLB karena takut ditaksir. Padahal ia berteman juga dengan teman lawan jenisnya. Jadi homophobic bukan hanya karena karena agama, tapi juga karena kepercayaan diri yang terlalu tinggi. 

Mereka menyatakan Tuhan melarang homoseksual, karena Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan dari jenisnya sendiri. Mungkin mereka lupa bahwa Tuhan sekedar menciptakan berpasangan, bukan mewajibkan berpasangan, bagaimana dengan pastor-pastor dan suster yang celibat (tidak berpasangan). Kemudian mereka menghukum kelompok LGB karena tidak berpasang-pasangan, padahal mereka yang yakin bahwa itu Tuhan yang melarang. Jadi mereka menghukum untuk Tuhan. Mereka adalah aparat penegak hukum bagi Tuhan, bahkan ada yang mengklaim tentara Tuhan. Lucunya lagi, mereka percaya bahwa Tuhan maha-segalanya, menciptakan Bumi dalam beberapa hari, dan mampu menghancurkan bumi dalam sekejab. Lalu mereka mendapat wangsit seolah-olah mereka direkrut Tuhan untuk menjadi tentaranya. Imajinasi yang liar tentang Tuhan. Ulah mereka yang clueless mengingatkan kita pada Tarzan, yang frustasi mencoba hidup ala hutan di tengah peradaban manusia yang telah ribuan langkah didepan. Kita bisa memaklumi Tarzan yang memang tidak punya akses informasi, ketinggalan peradaban. Tapi mereka? Orang-orang kota yang ber-blackberry, menggunakan internet hingga bisa menerabas batas-batas negara untuk menggali informasi, menonton televisi mancanegara? Apa yang salah dalam perkembangan diri mereka hingga tidak bisa berdamai dengan peradaban manusia modern?

Atau mungkin karena peradaban membuat manusia menjadi terlalu autis, hingga sulit berempati dengan orang lain? Atau mungkin peradaban membuat manusia terkotak-kotak dalam batas-batas negara hingga tidak membela manusia lainnya diluar batas negaranya?
Berapa banyak orang indonesia yang peduli perang di Georgia akibat serangan Rusia? Bahkan, perhatian orang indonesia lebih tertuju pada Palestina daripada gempa manokwari yang dalam 10 hari, BMG mencatat terjadi lebih dari 1.500 kali gempa. Hanya karena di Palestina ”saudara” kita sesama Islam, padahal manusia sendiri yang mengklaim semua manusia bersaudara.

Tarzan kota, saya lebih suka menyebut orang-orang itu begitu. Orang-orang yang masih hidup di perabadan sebelumnya. HAM tercipta untuk meningkatkan martabat seluruh umat manusia agar hidup bermartabat, agar hidup seperti manusia. Dimana semua manusia setara, apapun agamanya, rasnya, kebangsaannya, orientasi seksualnya, jenis kelaminnya, status sosialnya, apapun. Dimana semua manusia punya hak untuk bebas dari kekerasan, ketakutan, kemiskinan, kehidupan yang tidak layak, bullying, hak untuk diperlakukan sebagai manusia. Dengan akses yang sedemikikan rupa untuk memperoleh teks DEKLARASI UNIVERSAL HAK ASASI MANUSIA, adalah tarzan Kota bagi mereka yang masih memperlakukan manusia tidak seperti manusia. Tribal. Mungkin seperti budak dulu yang baru dibebaskan, mereka tidak tahu bagaimana seharusnya manusia.


dina savaluna

Thursday, January 22, 2009

2009 World Report: Obama Should Emphasize Human Rights

Source: Human Rights Watch



(Washington, DC) - The incoming Obama administration will need to put human rights at the heart of foreign, domestic, and security policy if it is to undo the enormous damage of the Bush years, Human Rights Watch said today in issuing its World Report 2009.

US leadership in promoting human rights will be vital, Human Rights Watch said, because at present the most energetic and organized diplomacy addressing human rights is negative - conducted by nations trying to avoid scrutiny of their own and their allies' abuses. And the human rights crisis in Gaza, where hundreds of civilians have been killed in fighting between Israel and Hamas, underscores the need for concerted international attention to the rights abuses that plague today's armed conflicts, Human Rights Watch said.

"For the first time in nearly a decade, the US has a chance to regain its global credibility by turning the page on the abusive policies of the Bush administration," said Kenneth Roth, executive director of Human Rights Watch. "And not a moment too late. Today, the most energetic diplomacy on human rights comes from such places as Algiers, Cairo, and Islamabad, with backing from Beijing and Moscow, but these ‘spoilers' are pushing in the wrong direction."

The 564-page World Report 2009, Human Rights Watch's 19th annual review of human rights practices around the globe, summarizes major human rights issues in more than 90 countries, reflecting the extensive investigative work carried out in 2008 by Human Rights Watch staff.

The report documents ongoing human rights abuses by states and non-state armed groups across the globe, including attacks on civilians in conflicts in Afghanistan, Colombia, the Democratic Republic of Congo, Georgia, Israel and the Occupied Palestinian Territories, Somalia, Sri Lanka, and Sudan, and political repression in countries such as Burma, China, Cuba, Iran, North Korea, Saudi Arabia, Uzbekistan, and Zimbabwe. It also highlights violations by governments trying to curb terrorism, including in France, the United Kingdom, and the United States. The report also addresses abuses against women, children, refugees, workers, gays, lesbians, bisexuals and transgender people, among others.

The introductory essay by Roth outlines steps the United States and other governments that purport to support human rights should take if they want to reclaim the initiative for human rights from the "spoiler" nations that today so aggressively and effectively oppose them.

"As a vital first step, Barack Obama and his team should radically rethink how they fight terrorism," Roth said. "It's not only wrong but ineffectual to commit abuses in the name of fighting terrorism or to excuse abuses by repressive governments simply because they're thought to be allies in countering terror."

Roth notes that at the United Nations and in other international bodies, repressive governments have blocked scrutiny and censure for rights violations as too many democracies either stand by or mount an ineffective defense. Countries such as Algeria, Egypt, and Pakistan, supported by China, Russia, India,and South Africa, defend the prerogative of governments to do what they want by making claims of sovereignty, non-interference or regional solidarity. Washington has been unable to respond effectively, even where it seeks to uphold human rights, because of its recent record of abuses, mostly committed in the name of countering terrorism, and because it has forsaken effective multilateral diplomacy in preference for an arrogant exceptionalism.

Roth called on the new Obama administration to signal the US government's willingness to rejoin the international community and subject itself to the rule of law by "re-signing" the International Criminal Court (ICC) treaty, seeking membership on the UN Human Rights Council, and ratifying neglected major human rights treaties.

Some governments have profited from the US absence to undermine international protection for human rights. "It is a sad fact that when it comes to human rights, the governments with the clearest vision and most effective strategy are often those trying to undermine rights enforcement," said Roth.

Roth said that the human rights opponents have come to dominate intergovernmental discussions of human rights, downgrading UN scrutiny of severe repression in Uzbekistan, Iran, and the Democratic Republic of Congo, for example, and compromising the UN Human Rights Council. These spoilers have also challenged criticism of the Burmese military government and tried to halt the likely prosecution of President Omar al-Bashir of Sudan by the ICC over the deadly abuses in the Darfur region.

Governments seeking to play a negative role on human rights do so to forestall international scrutiny of their own or their allies' violations, Roth said. While saying they support human rights in principle, these nations cite sovereignty to avoid scrutiny of their records. Roth noted: "These governments make claims of regional solidarity or solidarity within the global South, but the solidarity that they have in mind is with abusive leaders, not their victims."

The report singles out many nations for such criticism, including South Africa for failing to address the crisis in neighboring Zimbabwe, Egypt for encouraging lessened scrutiny of the conflict in Darfur, and India and China for not addressing repression in Burma.

Human Rights Watch commends southern governments that have bucked the trend and spoken out in support of human rights, such as Botswana, Ghana, Liberia, Nigeria, Sierra Leone, and Zambia in Africa, and Argentina, Chile, Costa Rica, and Uruguay in Latin America. But it points out that smaller and middle-sized governments do not have sufficient clout to counter the efforts of the spoilers without help from the major Western democracies.

Roth's essay concludes that because the Bush administration largely withdrew from the defense of human rights after deciding to combat terrorism without regard to such basic rights as not to be subjected to torture, enforced disappearance, or detention without trial, it forced the European Union to act on its own. The EU responded admirably in the Georgia-Russia crisis and in sending monitors to protect civilians in eastern Chad. But the report says the EU also failed to project its influence more broadly, hiding behind a cumbersome decision-making process, carrying out half-hearted and ineffective diplomatic efforts and failing to project its influence in places such as the Democratic Republic of Congo, Burma, and Somalia.

"The successful defense of human rights will require serious self-examination and a willingness on the part of the world's democracies to change course," Roth said. "The task facing the human rights community is to convince both the traditional supporters of human rights and potential new ones to seize this opportunity."

Dari dosa Masa Lalu ke Elit Politis Masa Kini

Cerita berikut ini adalah kisah nyata,
dosa masa lalu yang sampai kini belum ada pertanggungjawabannya
mungkin sebagian dari kita masih ingat marsinah,
aktivis buruh yang dibunuh secara keji di Surabaya, Mei 1993 lalu.
mayatnya dibuang di Nganjuk, Jawa Timur

Kodam V/ Brawijaya mencuci tangan dengan mencari tersangka baru.
PT CPS, tempat Marsinah bekerja menjadi sasarannya.
Judi Susanto, pemilik PT CPS beserta delapan orang jajarannya (salah satunya seorang perempuan hamil) diculik di Markas Besar Detasemen Intel Kodam V/Brawijaya dan disiksa oleh aparat Detasemen Intelijen KODAM V/ Brawijaya 30 Oktober hingga 1 November 1993.
Mereka baru diserahkan ke POLDA 19 hari pasca penculikan.

cerita berikut ini diambil dari buku "kekerasan Penyidikan dalam Kasus Marsinah", terbitan YLBHI tahun 1995.

saat tiba di Markas Den Intel, para korban penculikan dipaksa menanggalkan pakaian masing-masing hingga hanya menggunakan celana dalam. Kemudian mereka dipotret dengan pose memegangi papan bertuliskan nama masing-masing. Ini merupakan suatu bentuk degrading treatment yang dilakukan dengan tujuan menghancurkan martabat manusia, agar lebih mudah diintimidasi menuruti apa yang diinginkannya. Aparat Den Intel kemudian memaksa mereka melakukan konspirasi membunuh marsinah, lengkap dengan segala bentuk siksaan seperti hasil temuan mayat marsinah di nganjuk.

Judi Susanto,

ia yang pertama kali diinterogasi dan disiksa. Mungkin karena ia pemilik PT CPS, pengakuannya diperoleh, beres urusan. Agen-agen Intel Kodam kerap kali memukuli kepala Judi dari belakang.
Ia dipaksa membuka mulutnya dan petugas-petugas itu meludah di mulutnya, kemudian ia dipaksa menelan ludah aparat tersebut. Ini dilakukannya berkali-kali.
salah satu bentuk penyiksaan guna memperoleh pengakuan jodi adalah dengan setruman di alat kelamin. Ia dipaksa membuka celana dalamnya, dan alat kelaminnya disetrum. Lalu mulutnya disumpal dengan celana dalamnya sendiri agar tidak berteriak.

Suatu ketika, Judi karena tidak tahan pukulan dan setruman, ia muntah-muntah. Aparat memaksanya memakan kembali muntahannya.

di polda, petugas berinisial SLM dan RH memukul Judi hingga dirasakan punggung Judi patah. Mukanya juga dipukuli hingga bengkak.

Pukulan dan setruman selalu ia dapat setiap kali tidak memenuhi keinginan petugas. Pernah ia ditanya cara membunuh marsinah dan ia tidak bisa menjawab (karena ia tidak pernah melakukannya?!) ia disetrum dan dipukul lagi.

Di malam hari, ia sering dibawa keluar, ditelanjangi, dan disuruh berguling-guling dan memakan rumput. Sering juga ia dipaksa merangkak sambil menjilati lantai, sembari sesekali dipukul dan ditendang.

Suatu malam, entah malam keberapa, Judi Tidak ingat, ia dipaksa mengakui telah memperkosa Marsinah. Memang dari hasil pemeriksaan forensik, di kelamin jasad marsinah didapat sisa sperma. Judi yang merasa tidak pernah memperkosa marsinah menolak. Mulutnya disumpal dengan lap bekas kompor minyak tanah. Saat ia muntah, petigas mencuci muka judi dengan muntahannya sendiri. Judi pingsan.

Pada 5 Oktober malam, dua orang berpakaian loreng menginterogasinya tentang cara membunuh marisnah. Ia tidak bisa menjawab. Mereka membakar bulu kemaluannya.
Kemudian ia disuruh tiarap, tubuhnya diselimuti koran dan petugas membakar koran itu. Pelaku itu dikenali sebagai Letda FTH dan Sertu SYN.

suatu malam, Judi Susanto dibawa kesuatu ruangan, Karyono Wongso (bawahannya yg juga diculik) telah menunggu. Mereka dipaksa berkelahi. Jika pukulan mereka tidak kuat, para petugas seolah-olah memberi contoh kepada mereka dengan memukul mereka keras2 hingga sempoyongan. Sambil bertinju mereka dipaksa menjawab motivasi membunuh marsinah. Ketiika mereka tidak bisa menjawab, mereka ditendang di muka.

SUPRAPTO

Satpam PT CPS ini dibawa ke kamar mandi dan disuruh duduk bersila,
lalu kakinya diinjak petugas dan dipaksa mengaku membunuh Marsinah. Pada 3
Oktober, Suprapto dipindahkan ke ruang ED alia ATK, seorang agen Inteldam.
Di ruang itu Suprapto tidur beralaskan koran. Siang harinya, kepalanya
dipukuli oleh ATK. Para petugas lainnya memukulinya terus-menerus hingga ia
mengakui apa yang dikehendaki para petugas Inteldam.
Petugas juga memaksa Suprapto mengaku telah menerima uang sebesar Rp 1,5
juta dari Judi Susanto untuk membunuh Marsinah. Ketika dijawab tidak,
petugas memukul dan menyeterumnya. Suprapto menyerah, namun kembali disetrum
karena tak mampu menjawab di mana mayat Marsinah dibuang.

Seorang petugas juga menodongkan pistol ke kepala Suprapto. Petugas tadi
menyuruhnya berdoa sambil berkata: "Apa pesanmu sebelum saya tembak?"
Suprapto menjawab, "Tolong sampaikan kepada keluarga saya, jaga baik-baik
anak saya." Intel tadi tak jadi menembak, namun malah memukulkan ganggang
pistol ke bagian belakang kepala Suprapto. Wajahnya dipukuli, kemaluannya
dicambuki dengan lidi, dadanya disetrum dan dimaki-maki.

SUWONO

Satpam PT CPS ini bekas anggota Korps Marinir, pasukan elite TNI
Angkatan Laut. Ia yang paling berat menerima siksaan. Seorang petugas
berseragam hijau dari Den Intel Kodam V/Brawijaya berteriak-teriak,
seolah-olah senang menemukan Suwono, "Ini yang dari Marinir, ini yang dari
Marinir!" Suwono lalu dijebloskan ke sebuah ruangan, di sana ia jadi
bulan-bulanan sekitar sepuluh anggota Den Intel Kodam V/Brawijaya. Setiap
jawaban yang tidak memuaskan para petugas dari kesatuan TNI Angkatan Darat
itu, Suwono menerima pukulan yang makin lama makin keras.

Suwono selama diculik di Den Intel hanya boleh tidur dengan celana
dalam, tanpa alas tidur, selalu diganggu saat tidur dengan lemparan kaleng
dan dikencingi petugas. Seringkali ia disuruh berdiri, mengangkat sebelah
kakinya sekian lama hingga ada perintah untuk selesai. Suwono juga
ditelanjangi dan disetrum dan ditendang kelaminnya. Suwono tak tahan
setruman, mulutnya juga disumpal petugas dengan celana dalamnya sendiri
hingga akhirnya pingsan. Petugas yang menyetrum dan memukul Suwono, sebagian
ia kenali sebagai SKM, WAR dari Bakorstranasda Jatim dan SLM dari Polda
Jatim.

begitulah kira2 kekejaman TNI/POLRI masa itu...
belum terkuak hingga kini
saat ini pun tindakannya tidak koperatif
mangkir saat dipanggil komnas HAM
melecehkan ham
dan berani mengajukan diri jadi calon presiden
banyak dari jajaran mereka yang bermimpi menjadi legislatif

banyak yang menganggap pemimpin harusnya memang dari tentara/polisi,
karena tegas, berwibawa dan teruji kepemimpinannya.
padahal, untuk menjadi tegas dan berwibawa, tidak perlu menjadi tentara
banyak orang yang tegas dan berwibawa tanpa menyandang senjata
kuncinya hanyalah menempatkan orang dengan porsinya

teruji kepemimpinannya,
sebaliknya... justru memimpin tentara adalah memimpin paling mudah
karena tentara memang dididik, diciptakan, di brain-washed untuk dipimpin
diberikan perangkatnya berupa hukuman untuk insubordinasi, beserta hirarki yang ketat
diberikan senjata yang kemudian untuk menakut-nakuti sipil.
apa yang hebat dari pensiunan tentara untuk memimpin, kalau gitu?

menyambut hari HAM internasional ini,
marilah kita memikirkan kembali
apa mau kita dipimpin oleh pemimpin bermoral, bertindakan, atau membiarkan
bawahannya beritindak seperti diatas?
inhuman, immoral, and degrading as human being

dan apa pantas orang2 demikian bisa lolos tanpa ada pertanggungjawaban atas
pencideraan terhadap kemanusiaan?
saya lebih suka menyebut mereka seperti PBB menyebutnya,
the enemy of human kinds...

None of Human Being Deserves Torture

Dec, 3rd 2009

7 hari menuju Hari ham internasional 10 Desember 2008


Sari sudah kebal melihat usus-usus yang terburai, dengan cerebrum yang tercecer. Pekerjaannya sebagai dokter di di rumah sakit Kepolisian ini membuat dendrit-dendrit syarafnya tidak lagi mengenal ngilu.

Saat ini dimeja bedahnya, terkapar anak laki-laki berusia 14 tahun. 45kg. Wajahnya sudah tidak berbentuk rapi. Matanya dua namun hanya satu yang mampu memperlihatkan pupilnya.

Pasti kena di orbicularis oculi.

Hidungnya patah.

Saluran Nasalisnya akan terganggu seumur hidupnya.

Di belahan bibir atasnya terdapat belahan yang membuat giginya yang patah tersembul keluar. Darah mengalir deras dari mulut dan hidungnya. Ia mendesah lemah. Sari langsung mengeluarkan jarum anastesi. “Dok, kata penyidiknya tidak usah dianastesi. Langsung diambil saja pelurunya”

huh, kalau gitu mengapa tidak dia ambil sendiri pakai sumpit, gerutu Sari dalam hati.

Baru ia sadari anak ini mengeluarkan darah lewat telinga.

Anak ini sekarat.

“Microbiofin” pintaku.

“habis untuk pasien kita yang ditembak di renal, dok”

damn it!

“stellafanollyt”

“dok, ini bisa membuat luka luar tidak akan hilang”

“saya mencoba menyelamatkan nyawa anak ini”

“tapi penyidik tidak akan suka ini”

“kalau gitu suruh mereka mengerjakan sendiri!”

Beberapa petugas yang sejak tadi berjaga di luar kamar operasi langsung masuk ke dalam.

“ruangan ini steril, pak. Anda harus menunggu diluar” pintaku setegas mungkin.

“ ada apa ini?”

“ bapak silakan tunggu di luar”

“saya minta yang biasa saja, jangan diberi yang aneh-aneh”

“saya tahu apa yang saya lakukan, pak! bapak silakan tunggu di luar”

“ saya tidak mau direpotkan dengan yang aneh-aneh, saya akan mengawasi operasi ini”

“kalau begitu gunakan baju steril dan jangan lupa cuci tangan anda”

mereka menuju rak baju steril. Sari memperhatikan lantai putih yang berceceran Lumpur cokelat dari sepatu lars mereka.

mereka seperti sapi dari kubangan Lumpur

ruangan ini seperti ruang operasi hewan

aku bisa tahan dengan darah, tapi tidak dengan Lumpur.

menjijikan.

“saya bilang jangan di anastesi” bentak sapi gendut didepannya

“ anak ini sekarat pak” kata Sari setengah berteriak

“ anak ini bandar

so what? anak ini sekarat.

“anak ini pantas merasakannya supaya tidak menjadi bandar sampai besar”

no one deserves that, you’re moron!, Sari membatin dalam hati. Ia mulai pusing melihat Lumpur berceceran dimana-mana. Obsessive Compulsive Disorder-nya akan Lumpur mulai melahirkan bulir-bulir keringat di keningnya. Lututnya lemas. ia harus tetap konsentrasi dengan operasinya.

ia membelah deltoit muscle anak ini,

harus ia korek dalam daging-daging yang menyembur keluar sampai ia bisa menemukan selongsong peluru di dalamnya.

Robek sampai clavicular pectolaris.

Pasti ditembak bersarang jarak dekat.

anak ini mengerang.

darah menyembur kencang di antara gumpalan daging yang ia sentuh.

Sari mulai memanik

“S.O.S. EMERGENCY. LOSS OF BLOOD. S.O.S EMERGENCY! 200! Go!” suara Sari bergetar. Semua sibuk.

anak ini sekarat.

Mati.

anak ini mati. ditanganku

Sari selalu kesal bila pasiennya mati

ia seperti sedang bertanding dengan Tuhan

Ia benci ia kalah.

tapi bila hidup pun, sari tahu anak ini akan lebih menderita dari pada ia mati.

sapi-sapi gendut ini, ia percaya lebih kejam dari Tuhan. Tuhan yang digambarkan tukang siksa di neraka oleh kaum-kaum fundamentalis.

“tidak usah di autopsy” kata polisi-polisi itu seperti perintah

“mereka terlibat tindak pidana, secara hukum kami wajib autopsy”

“saya yang tahu hukum” katanya arogan.

Sari tahu, bila diautopsi, dosa mereka akan tercatat.

mereka hanya memilih dicatat oleh malaikat kiri, karena mereka tahu, mereka menang bertanding keji dengan Tuhan.

Pasal 5 DUHAM

“Tidak ada manusia yang pantas disiksa”